Saturday, July 21, 2007

PENULISAN KATA

Catatan: Untuk bagian PENULISAN KATA, kami sengaja tidak mencantumkan semua bagian yang ada dalam bab “Penulisan Kata” buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Kami hanya mencantumkan bagian-bagian yang kami anggap penting saja.

Kata Turunan
Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai
Adipati, aerodinamika, antarkota, anumerta, audiogram, awahama, bikarbonat, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, dekameter, demoralisasi, dwiwarna, ekawarna, ekstrakurikuler, elektroteknik, infrastruktur, inkonvensional, introspeksi, kolonialisme, kosponsor, mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolaborasi, Pancasila, panteisme, paripurna, poligami, pramuniaga, prasangka, purnawirawan, reinkarnasi, saptakrida, semiprofesional, subseksi, swadaya, telepon, transmigrasi, tritunggal, ultramodern

Catatan:
1. Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung
(-).
non-Indonesia, pan-Afrikanisme

2. Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih


Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung
Anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati-undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur5-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra

Gabungan Kata
Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linear, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat

Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang dimaksud.
alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda

Gabungan kata ditulis serangkai.
adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, darmawisata, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, saptamarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam

Kata Ganti –ku, kau-, -mu, dan –nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Apa yang kumiliki boleh kauambil
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan

Kata depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada.
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam sajalah di sini.
Di mana Siti sekarang?
Mereka ada di rumah.
Ia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Ke mana saja ia selama ini?
Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.
Mari kita berangkat ke pasar.
Saya pergi ke sana-sini mencarinya.
Ia datang dari Surabaya kemarin.

Catatan:
Kata-kata yang tercetak miring di bawah ini ditulis serangkai.
Si Amin lebih tua daripada si Ahmad.
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
Ke sampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
Ia masuk, lalu keluar lagi.
Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.
Bawa kemari gambar itu.
Kemarikan buku itu.
Semua orang terkemuka di desa hadir dalam kenduri itu.



Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.


Partikel
Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Bacalah buku itu baik-baik.
Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?

Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Jangan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.

Catatan:
Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya
adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
Baik para mahasiswa maupun mahasiswi ikut berdemonstrasi.
Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
Walaupun miskin, ia selalu
gembira.

Partikel per yang berarti 'mulai', 'demi', dan 'tiap' ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
Harga kain itu Rp 2.000 per helai.


Singkatan dan Akronim
a. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebiha. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
A.S. Kramawijaya
Muh. Yamin
Suman Hs.
Sukanto S.A.
M.B.A master of business administration
M.Sc. master of science
S.E sarjana ekonomi
S.Kar sarjana karawitan
S.K.M sarjana kesehatan masyarakat
Bpk. bapak
Sdr. saudara
Kol. kolonel


b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.

DPR Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia
GBHN Garis-Garis Besar Haluan Negara
SMTP Sekolah Menengah Tingkat Pertama
PT Perseroan Terbatas
KTP Kartu Tanda Penduduk


c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.

dll. dan lain-lain
dsb. dan sebagainya
dst. dan seterusnya
hlm. halaman
sda. sama dengan atas
Yth. (Sdr. Moh. Hasan)
Yang terhormat (Sdr. Moh. Hasan)

Tetapi:
a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
u.b. untuk beliau
u.p. untuk perhatian


d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Cu kuprum
TNT trinitrotoluen
cm sentimeter
kVA kilovolt-ampere
l liter
kg kilogram
Rp (5.000,00) (lima ribu) rupiah


a. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.

ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN Lembaga Administrasi Negara
PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
IKIP Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
SIM Surat Izin Mengemudi


b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia
Kowani Kongres Wanita Indonesia
Sespa Sekolah Staf Pimpinan Administrasi

c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil
pemilu pemilihan umum
radar radio detecting and ranging
rapim rapat pimpinan
rudal peluru kendali
tilang bukti pelanggaran


Catatan:
Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut:
1. Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazin pada kata Indonesia Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.
2. Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

Angka dan Lambang Bilangan
1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Angka Arab
:
0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi
:
I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000)
Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.
2. Angka digunakan untuk menyatakan:
(i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi (ii) satuan waktu (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas
0,5 sentimeter
5 kilogram
4 meter persegi
10 liter
1 jam 20 menit
pukul 15.00
tahun 1928
17 Agustus 1945
Rp5.000,00
US$3.50*
$5.10*
¥100
2.000 rupiah
50 dolar Amerika
10 paun Inggris
100 yen
10 persen
27 orang
* tanda titik di sini merupakan tanda desimal.
3. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
· Jalan Tanah Abang I No. 15
· Hotel Indonesia, Kamar 169
4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
· Bab X, Pasal 5, halaman 252
· Surah Yasin: 9
5. Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut:

a. Bilangan utuh
dua belasdua puluh duadua ratus dua puluh dua

1222222
b. Bilangan pecahan
setengahtiga perempatseperenam belastiga dua pertigaseperseratussatu persensatu dua persepuluh
1/23/41/163 2/31/1001%1,2
6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.
Paku Buwono X
pada awal abad XX
dalam kehidupan pada abad ke-20 ini
lihat Bab II, Pasal 5
dalam bab ke-2 buku itu
di daerah tingkat II itu
di tingkat kedua gedung itu
di tingkat ke-2 itu
kantornya di tingkat II itu
7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti
tahun '50-anuang 5000-anlima uang 1000-an
(tahun lima puluhan)(uang lima ribuan)(lima uang seribuan)
8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.
Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.

9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
Bukan:
15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.

10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.


11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Kantor kami mempunya dua puluh orang pegawai.
DI lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
Bukan:
Kantor kamu mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.

12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.

Friday, October 20, 2006

PEMAKAIAN HURUF MIRING

Dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar yang dipakai dalam kutipan.
majalah Bahasa dan Sastra, buku Negarakertagama karangan Mpu Prapanca,
surat kabar Suara Rakyat.
Pada usia 38 tahun, Mallory menulis buku The Mountaineer as Artist.

Perlakuan apa yang diambil untuk penulisan nama kantor berita, stasiun televisi, dan stasiun radio. Untuk sementara tetap ditulis tegak atau dengan huruf miring?

Dipakai untuk menuliskan nama ilmiah dan kata atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.
Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi ‘pandangan dunia’
.

Tetapi: Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

Dipakai untuk menegaskan atau mengkhusukan huruf, bagian kata, atau ke­lom­pok kata.
Huruf pertama kata abad adalah a.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.

Dipakai untuk menuliskan unsur serap­an yang berasal dari bahasa asing/daerah, yang belum dibakukan dalam KBBI.
Berdasarkan visum et repertum, korban tewas yang ditemukan me­ngam­bang di
Kali Ciliwung itu disebabkan penganiayaan.
(Tambahan)

PEMAKAIAN HURUF KAPITAL

Dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Adik bertanya, “(K)apan kita pulang?”
Bapak menasihatkan, “(B)erhati-hatilah, Nak!”
“(K)emarin engkau terlambat,” katanya.

Dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
(A)llah, (Y)ang (M)ahakuasa, (Y)ang (M)aha (P)engasih, (A)lkitab,
(Q)uran, (W)eda, (K)risten.
(T)uhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-(N)ya.
(B)imbinglah hamba-(M)u, ya (T)uhan, ke jalan yang (E)ngkau beri rahmat.

Dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan kea­ga­maan yang diikuti nama orang.
(M)ahaputra Yamin,
(S)ultan Hasanuddin,
(H)aji Agus Salim,
(N)abi Ibrahim
(I)mam Syafii

Dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama in­stansi, atau nama tempat.
(W)akil (P)residen Adam Malik
(P)erdana (M)enteri Nehru
(P)rofesor Supomo
(L)aksmana (M)uda (U)dara Husein Sastranegara
(S)ekretaris (J)enderal Departemen Pertanian
(G)ubernur Irian Jaya

Dipakai sebagai huruf pertama jika mengacu ke nama orang, jabatan, atau instansi (yang sudah disebutkan terdahulu).
Demikian dikatakan (P)residen (yang dimaksud Presiden Abdur­rahman Wahid) seusai bertemu dengan Presiden PLO Yasser Arafat.
Prosedurnya harus dihadiri 2/3 anggota (M)ajelis dan disetujui juga oleh 2/3 anggota (M)ajelis. (yang dimaksud MPR)
(Tambahan)

Tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak dii­kuti na­ma orang, instansi, atau nama tempat.
Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi
(m)ayor (j)enderal
Siapakah (g)ubernur yang baru dilantik itu?

Dua hari lalu Mayor Jenderal Suyono dilantik menjadi
(l)etnan (j)en­de­ral.
Tetapi: Mayor Jenderal Prabowo Subianto diang­kat menjadi
(K)o­man­dan (J)enderal Kopassus.

Dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
(A)mir (H)amzah, (D)ewi (S)artika, (W)age (R)udolf (S)upratman, (H)alim (P)erdanakusumah

Tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai na­ma jenis atau satuan ukuran.
(m)esin (d)iesel, 10 (v)olt, 5 (a)mpere

Dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
bangsa (I)ndonesia, suku (S)unda, bahasa (I)nggris

Tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Meng(i)ndonesiakan kata asing
ke(i)nggris-(i)nggrisan

Dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan perisiwa sejarah.
tahun (H)ijriah, tarikh (M)asehi, bulan (A)gustus, bulan (M)aulid, hari (J)umat, hari (G)alungan, hari (L)ebaran, hari (N)atal,
(P)erang (C)andu, (P)roklamasi (K)emeredekaan Indonesia

Tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Soekarno Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

Dipakai sebagai huruf pertama nama geografis.
(B)ukit (B)arisan, (D)anau (T)oba, (D)ataran (T)inggi Dieng,
(G)unung (S)emeru, (J)alan (D)iponegoro, (S)elat (L)ombok,
(T)erusan (S)uez, (P)egunungan (J)ayawijaya.

Tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografis yang tidak menjadi na­ma diri.
Berlayar ke teluk, mandi di kali, menyeberangi selat, pergi ke arah tenggara

Tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografis yang digunakan sebagai na­ma jenis.
(j)ambu (b)angkok
(s)alak (b)ali
(g)aram (i)nggris
(g)ula (j)awa
(k)acang (b)ogor
(p)isang (a)mbon

Dipakai sebagai seluruh unsur yang membentuk sebuah singkatan/akronim apabi­la se­tiap huruf dalam singkatan itu memiliki sebuah kata.
FSUI (Fakultas Sastra Universitas Indonesia)
ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
(Tambahan)

Dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah, ketatanegaraan, dan doku­men res­mi, kecuali kata seperti dan.
(R)epublik (I)ndonesia, (M)ajelis (P)ermusyawaratan (R)akyat,
(D)epartemen (P)endidikan dan (K)ebudayaan,
(B)adan (K)esejahteraan (I)bu dan (A)nak,
(K)eputusan (P)residen (N)omor 57 (T)ahun 1972

Dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang ter­da­pat pa­da nama badan, lembaga pemerintah, ketatanegaraan, dan doku­men res­mi.
(P)erserikatan (B)angsa-(B)angsa,
(Y)ayasan (I)lmu-(I)lmu (S)osial,
(U)ndang-(U)ndang (D)asar (R)epublik (I)ndonesia,
(R)ancangan (U)ndang-(U)ndang (K)epegawaian


Dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sem­purna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul ka­rangan, ke­cuali kata di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak di awal.
Saya telah membaca (D)ari (A)ve (M)aria ke (J)alan
(L)ain ke (R)oma
karya Idrus.
Bacalah majalah (B)ahasa dan (S)astra.
Naskah drama (K)apai-(K)apai dikarang Arifin C Noor.

Dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
(D)r.
(M.A.)
(S.E.)
(P)rof.
(T)n.
(N)y.
(S)dr.

Dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti ba­pak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang dipakai dalam penyapaan serta peng­acuan.
Adik bertanya, “Itu apa, (B)u?”
”Silakan duduk, (D)ik,” kata Ucok.
”Kapan (B)apak berangkat?” tanya Harto.
Para ibu mengunjungi rumah (I)bu Hasan.
Mereka pergi ke rumah (P)ak Camat.

Tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

Dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda
Sudahkah (A)nda tahu?
Suart (A)nda telah kami terima.

Thursday, October 19, 2006

TANDA BACA

Tanda Titik (.)
Dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Ayahku tinggal di Solo.
Biarlah mereka duduk di sana.
Dia menanyakan siapa yang akan datang.
Hari ini tanggal 6 April 1973.
Marilah kita mengheningkan cipta.
Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.

Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagian, ikhtisar, atau daftar.
a. III. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
B. Direktorat Jenderal Agraria
1. …
b. 1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
Catatan: Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)

Dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan yag tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.

Dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

Tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung
Lihat halaman 2345 dan seterusnya

Tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat)
Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik)
Jakarta (tanpa titik)
1 April 1985 (tanpa titik)

Tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Acara Kunjungan Adam Malik
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)
Salah Asuhan


Tanda Koma (,)
Dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Tabrakan beruntun di jalan tol itu menyebabkan 20 orang tewas, 15 luka berat, dan tiga luka ringan.
Saya membeli kertas, pena, dan tinta
Satu, dua, … tiga!

Dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dengan kalimat setara ber­ikutnya, yang didahului oleh kata seperti tetapi dan melainkan.
Hal itu bukan tanggung jawab presiden, tetapi wakil presiden.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

Dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat ter­sebut men­dahului induk kalimatnya.
Jika ada pembuktian, pemerintah akan membatalkan perjanjian itu.
Tetapi: Pemerintah akan membatalkan perjanjian itu jika ada pembuk­tian.

Tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat ter­sebut mengiringi induk kalimatnya.
Saya tidak datang kalau hari hujan.

Dipakai di belakang kata atau frasa penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti bahkan, jadi, namun, dengan demikian, oleh karena itu, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, dan meskipun demikian.
Namun, yang jauh lebih penting, Presiden Abdur­rahman Wahid harus bersikap jujur dan berpikiran jernih.

Dipakai untuk memisahkan partikel seperti o, ya, wah, kok, aduh dari kata lain yang terdapat dalam kalimat.
”Wah, saya tidak tahu itu,” kata Menteri Keuangan kepada pers.

Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat (Lihat juga pemakaian tanda petik)
Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”
“Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”

Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu diakhiri dengan tanda tanya atau tanda seru.
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.
“Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.

Dipakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tang­gal, dan nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Lokasi tersebut hanya berjarak 19 kilometer dari Distrik Lubok Antu, Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur.

Dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: Pustaka Rakjat.

Dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
W.J.S Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

Dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membe­dakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Prof Dr Satjipto Rahardjo, SH
Prof Dr I Ketut Surajaya, MA

Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi yang sifatnya tidak membatasi (bisa juga dengan tanda pisah).
Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
Komisaris Besar Pradopo Timur, Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung, terlihat sangat marah. (Tetapi: Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung Komisaris Besar Pradopo Timur terlihat sangat marah.)

Kalau, misalnya, menyinggung perasaan rakyat, keputusan itu sebaik­nya dicabut saja.

Dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang ter­dapat pada awal kalimat.
Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.
Di Rumah Sakit Pondok Indah, Nita Tilana meninggal dunia.
Tetapi: Di Rumah Sakit Pondok Indah terjadi malapraktik yang mem­bahayakan.

Dipakai di depan angka persepuluhan.
Jarak pintu depan rumah Gubernur DKI dengan tempat pe­nem­bakan sekitar 13(,)5 meter.
Harga minyak per barrel adalah 50,75 dollar AS

Tanda Titik Koma (;)
Dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Malam makin larut; kami belum selesai juga.

Dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Ayah mengurus tanamannya di kebun; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghafal nama-nama pahlawan nasional; Saya sendiri asyik mendengarkan siaran “Pilihan Pendengar”.

Dipakai dalam perincian untuk menghindari kesalahan tafsir.
Selain Menteri Pertahanan Mahfud MD, acara itu juga dihadiri S Bimantoro, Kepala Polri; Graito Usodo, Kepala Puspen TNI; Amin Aryoso, Ketua Komisi II DPR; dan Antasari Azhar, Kepala Ke­jaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Tanda Titik Dua (:)
Dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap apabila diikuti rangkaian atau pe­merian.
Pilihannya hanya dua: hidup atau mati.
Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

Tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Fakultas itu mempunyai Jurusaan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.

Dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
a. Ketua : Ahmad Wijaya
Sekretaris : S. Handayani
Bendahara : B. Hartawan

b. Tempat Sidang : Ruang 104
Pengantar Acara : Bambang S
Hari : Senin
Waktu : 09.30

Dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Ibu : (meletakkan beberapa kopor) “Bawa kopor ini, Mir!”
Amir : “Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk)
Ibu : “Jangan lupa. Letakkan baik-baik!” (duduk di kursi besar)

Dipakai di antara jilid atau nomor halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab suci, di antara judul dan anak judul dalam suatu karangan, serta di antara nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Tempo, I (34), 1971: 7
Surat Yasin: 9
Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara Membina Bahasa Persatuan Kita? Djakarta: Erasco, 1968

Tanda Hubung (-)
Dipakai untuk menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.

Dipakai untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris. (Catatan: akhiran –i tidak dipenggal)

Dipakai untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.
Secara terburu-buru, Habibie mengakui hasil penentuan pen­dapat di Timor Timur.

Dipakai untuk menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
p-a-n-i-t-i-a
8-4-1973

Dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
Ber-uang dan be-ruang

Dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Mobil Pak Lurah di-tune up di Bengkel Kenangan.

Dipakai untuk merangkaikan
se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital:
se-Indonesia

ke- dengan angka:
ke-12

angka dengan –an:
tahun 1950-an

untuk menghubungkan bentuk terikat dengan kata di depannya:
pas­ca-Perjanjian Malino II

untuk pengganti kata dan:
belajar-mengajar, jual-beli

singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata:
mem-PHK-kan

Akhiran yang didahului kata berkelas nomina yang mengacu pada nama orang, tempat, dan sebagainya yang harus ditulis dengan huruf kapital:
di Jawa-lah (Tambahan)


Tanda Pisah (—)
Catatan: Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.
Dipakai
untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi pen­jelasan khusus di luar bangun kalimat.
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

Berbagai langkah yang diambil—termasuk pelantikan mendadak Kepala Ke­polisian RI—merupakan pertanda bahwa pemerintah serius memerha­tikan negeri ini.

Dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti ’sampai dengan’ atau di antara dua nama kota yang berarti ’ke’ atau ’sampai’.
Perang Dunia II terjadi tahun 1942—1945.
Dua mahasiswa itu luka parah diserempet bus kota jurusan Jakarta Kota—Blok M.

Dipakai untuk menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Temuan polisi itu—berupa KTP, sidik jari, dan bekas bibir pada gelas— menyebabkan penyelidikan bertambah mudah.

Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

Tanda Elipsis (…)
Dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
”Ya…, pemerintah tidak akan melakukan kompromi.”

Dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihi­langkan.
Dalam pasal itu disebutkan, … presiden memberi grasi dengan mem­er­hatikan pertim­bangan Mahkamah Agung.

(Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, yang dipakai adalah empat titik—tiga untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat. Namun, pada judul, yang dipakai adalah tiga titik karena judul tidak harus menggunakan titik: ”Big is Beatiful…”)

Tanda Tanya (?)
Dipakai pada akhir kalimat tanya
Kapan ia berangkat?
Saudara tahu, bukan?

Dipakai untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya (disimpan dalam tanda kurung).
Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?).
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
Sundari Soekotjo dilahirkan tahun 1965(?).


Tanda Seru (!)
Dipakai sesudah ungkapan atau pertanyaan yang berupa seruan atau perintah yang meng­gambarkan kesungguhan, ketidakperca­yaan, atau rasa emosi yang kuat.
Alangkah seramnya peristiwa itu!
Bersihkan kamar itu sekarang juga!
Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya.
Dalam unjuk rasa itu, massa demonstran berteriak, ”Bakar! Bakar!”

Tanda Kurung (( ))
Dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun Daftar Isian Kegiatan (DIK) kantor itu.
Tommy Soeharto (Hutomo Mandala Putra) divonis 18 bulan penjara.

Dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian in­te­gral pokok pem­bicaraan.
Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
Kondisi Soeharto yang parah (lihat Tabel) tak memungkinkan bagi Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menyidangkannya.

Dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks da­pat dihilangkan.
Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.
Oknum pelaku peledakan bom itu diduga berasal dari (Kota) Bandung.

Dipakai untuk mengapit huruf atau angka yang memerinci satu urutan keterangan.
Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.


Tanda Kurung Siku ([ ])
Mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

Mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Persamaan kedua proses ini (perbedaanya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35—38]) perlu dibentangkan di sini.

Tanda Petik (”…”)
Dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dai pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
“Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar.”
Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”

Dipakai untuk mengapit judul syair, karangan, dan bab buku apabila dipakai dalam kalimat.
Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat.
Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” dimuat dalam majalah Tempo.
Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku ini.
Lagu “Terlena” yang terkumpul dalam album Kau Segalanya de­ngan baik dibawakan Melly Goeslaw.

(Catatan: Bagaimana dengan judul film, judul lukisan, judul atau nama tarian? Apakah diperlakukan sama [menggunakan tanda petik] atau dicetak tegak tanpa tanda apa pun?)

Dipakai untuk menandai julukan
Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”. (Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata yang mempunyai arti khusus)

Dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara ‘coba dan ralat” saja.
Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.
”Satu yang bisa saya janjikan hanyalah kerja keras,” kata Figo yang akan memakai kostum “keramat” nomor 10.

Dipakai untuk nama kegiatan, acara, seminar, diskusi, dan sejenisnya.
Hal itu dikata­kan Didik J Rachbini dalam seminar sehari ber­tema “Pros­pek Ekonomi Indonesia Pasca-Soeharto” di Jakarta. (Tambahan)


Tanda Petik Tunggal (’…’)
Dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain.
Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
“Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
”Ia berkata, ‘tidak’, ketika saya ajak ke Atambua,” kata Ati.

Dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Feed-back ‘balikan’
Paling tidak, political statement ‘pernyataan politik’ yang menga­takan go ahead untuk perbaikan pendidikan harus ada.

Tanda Garis Miring (/)
Sebagai pengganti kata dan, atau, tiap, per, atau tahun pada lembaran negara.
Dikirimkan lewat darat/laut
Harganya Rp 25/lembar.
Petani menjerit karena harga gabah Rp 700(/)kilogram.
Larangan itu tertuang dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 (Undang-Undang Nomor 39/1999) tentang Hak Asasi Manusia.

Tanda Penyingkat/Apostrof (’)
Menunjukkan penghilangan kata atau bagian angka tahun
”Surat itu ‘lah (telah) kukirim,” ujarnya.
”Gunung pun ‘kan (akan) kudaki untuk mendapatkanmu,” ka­tanya.
1 Januari ’88 (1988).

Perkenalan

Salam!
Blog ini dibuat untuk memudahkan para penikmat bahasa Indonesia dalam mencari pedoman penggunaannya. Pedoman yang dipakai di sini adalah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan 1972 (EYD 1972), yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Selain itu, nantinya akan ada pula sekadar catatan ringan kebahasaan, yang merupakan usul usil saya.

Silakan menikmati

Atakiluk


Catatan: Memang pedoman yang dipakai adalah Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan 1972 (EYD 1972), tetapi di dalam blog ini akan ada beberapa catatan khusus, ditandai dengan pemberian warna yang berbeda. Jadi, jangan sampai terhanyut kebablasan.